Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Bos Instagram, Adam Mosseri, kembali mengklarifikasi dugaan yang beredar tentang praktik Meta dalam privasi pengguna. Ia secara tegas menyatakan bahwa perusahaan tidak mendengarkan pembicaraan pengguna melalui aplikasi mereka.
Spekulasi tentang perusahaan teknologi mendengarkan percakapan para penggunanya telah lama beredar di publik. Adam Mosseri, yang menjabat sebagai kepala Instagram, baru-baru ini kembali membantah tudingan yang menyebutkan bahwa Meta, perusahaan induk Instagram, secara diam-diam mengakses percakapan pengguna untuk kepentingan iklan atau tujuan lainnya.
Adam Mosseri, dalam berbagai kesempatan dan platform, menegaskan bahwa gosip terkait “menguping” ini sama sekali tidak berdasar. Ia menilai, rumor tersebut mencuat karena pengguna sering kali menemukan iklan yang relevan dengan apa yang baru saja mereka perbincangkan secara lisan. Namun, Mosseri memastikan hubungan antara kehadiran iklan dan aktivitas percakapan nyata hanyalah kebetulan, bukan akibat penyadapan.
Mosseri menjelaskan bahwa algoritma iklan yang digunakan Meta bekerja berdasarkan data interaksi pengguna di platform, seperti konten apa yang diklik, disukai, serta akun yang diikuti. Dengan data tersebut, sistem menampilkan iklan yang dinilai paling relevan bagi masing-masing pengguna. Tidak ada komponen pencatatan audio yang membisikkan konten iklan spesifik.
Munculnya iklan berdasarkan data perilaku digital sering kali menimbulkan kesan bahwa aplikasi seperti Instagram atau Facebook memanfaatkan mikrofon perangkat untuk ‘menguping’. Namun, Adam Mosseri kembali mengungkap fakta bahwa hal itu terjadi lantaran kemampuan kecerdasan buatan dalam memetakan kebiasaan digital pengguna. Sebagai contoh, jika seseorang sering mencari, menyukai, atau membicarakan topik tertentu di ruang digital, kemungkinan besar mereka juga akan melihat iklan terkait, terlepas dari percakapan lisan yang berlangsung di luar aplikasi.
Meta telah menekankan komitmennya pada perlindungan privasi pengguna. Fitur akses mikrofon diatur sepenuhnya oleh persetujuan dari pengguna saat mengoperasikan aplikasi, seperti ketika merekam Stories atau Live. Tidak ada sistem tersembunyi yang secara otomatis merekam maupun menganalisis audio dari pembicaraan biasa di sekitar perangkat.
“Kami tidak mendengarkan mikrofon secara diam-diam untuk tujuan personalisasi iklan atau model bisnis lainnya,” ujar Adam Mosseri dalam salah satu sesi tanya jawab dengan pengguna.
Banyak pakar keamanan siber dan digital turut menguatkan pernyataan Mosseri. Mereka sepakat bahwa tidak ada bukti teknis yang menunjukkan Meta atau platform media sosial besar lainnya memanfaatkan mikrofon secara diam-diam guna menargetkan iklan kepada pengguna. Peneliti keamanan siber secara rutin melakukan audit perangkat lunak dan belum menemukan bukti valid tentang praktik penyadapan massal tersebut.
Badan regulator dan pemerintah sejumlah negara telah menerapkan kebijakan ketat mengenai penggunaan data pribadi dan perlindungan privasi. Di Uni Eropa, misalnya, General Data Protection Regulation (GDPR) melarang perusahaan mengakses informasi suara pengguna tanpa izin eksplisit. Meta maupun Instagram harus patuh pada regulasi tersebut dan berisiko mendapat sanksi berat jika terjadi pelanggaran.
Isu privasi masih menjadi perhatian di kalangan pengguna media sosial. Adam Mosseri menilai pentingnya edukasi digital agar publik memahami bagaimana sistem periklanan dan algoritma bekerja. Dengan semakin canggihnya teknologi, diperlukan pemahaman yang proporsional untuk membedakan antara fitur aplikasi, keamanan data, hingga rumor yang belum terbukti kebenarannya.
“Kami terus berupaya transparan dengan pengguna terkait penggunaan data dan fitur privasi yang disediakan dalam aplikasi kami,” kata Mosseri menambahkan.
Meta berkomitmen memberikan ruang akses dan kontrol bagi pengguna atas data pribadinya. Pengguna dapat mengatur sendiri parameter data mana saja yang boleh atau tidak digunakan untuk kepentingan personalisasi iklan. Selain itu, Meta secara berkala melakukan pembaruan pada kebijakan privasi untuk menyesuaikan tuntutan keamanan siber dewasa ini.
Rumor dan teori konspirasi sejenis, seperti tuduhan Meta mendengarkan percakapan pengguna, muncul seiring kekhawatiran masyarakat terhadap dampak teknologi pada privasi. Namun, pengawasan dari pihak ketiga, auditori independen, serta tekanan dari publik dan regulator membuat perusahaan teknologi besar, termasuk Meta, harus ekstra hati-hati dalam menjalankan kebijakan terkait data pengguna.
Bagi pengguna yang masih merasa tidak nyaman, mereka dapat memilih opsi membatasi akses aplikasi ke mikrofon melalui pengaturan sistem operasi ponsel. Pengguna juga bisa memeriksa aplikasi mana saja yang memiliki akses tersebut, serta memperbaharuinya sesuai kebutuhan.
Komunitas pengguna dan pemerhati privasi mendorong perusahaan teknologi untuk lebih terbuka soal pengelolaan data. Selain itu, edukasi tentang fitur keamanan di aplikasi secara aktif disuarakan agar publik lebih memahami bagaimana data mereka digunakan serta opsi perlindungan yang tersedia.
Meta secara berkala menghadirkan laporan transparansi penggunaan data dan permintaan informasi dari pemerintah. Ini bertujuan membangun kepercayaan publik melalui keterbukaan praktik internal perusahaan, sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap masyarakat global yang menggunakan layanan mereka.
Pernyataan Adam Mosseri yang menegaskan bahwa Meta tidak memata-matai percakapan pengguna menandai komitmen perusahaan terhadap privasi. Dukungan dari pakar teknologi dan pengawasan masyarakat harus tetap dijaga agar praktik perlindungan data pribadi berjalan optimal.
Keterbukaan perusahaan, edukasi kepada pengguna, serta kepatuhan terhadap regulasi merupakan kunci untuk mengatasi beragam kekhawatiran di era digital saat ini.